Menyusui itu lebih dari sekedar asi, menyusui itu cinta.
Kalimat itu
pertama kali saya dengar dari dr. Utami Roesli . Dulu, saya kira memang
menyusui itu hanya soal cara pemberian makan pada bayi. Tapi setelah
hampir 2 tahun ini menyusui anak saya, Nara, rasanya saya harus sepakat
dengan apa yang disampaikan dokter Utami.
Menyusui memang membutuhkan komitmen tinggi, jika tanpa cinta maka
buyar sudah komitmen itu. Saya kira dulu menyusui adalah sesuatu hal
yang pasti menjadi pilihan bagi semua ibu. Tapi ternyata tidak. Kuatnya
terpaan iklan-iklan susu bisa jadi menggeser pilihan itu. Belum lagi
menghadapi 1001 permasalahan menyusui yang bisa membuat seorang ibu
depresi , mengoyahkan iman dan bahkan mengancam komitmen di awal.
Dan Alhamdulillah.. alhamdulillah komitmen saya tercapai..
Dinara sudah jadi profesor ASI sekarang, sudah
lulus S3 ASI, horeeee!
Masih ngerasa ga percaya dan juga ngerasa bangga bisa
nyusuin Nara selama dua tahun. Yang tadinya beranggapan "Ah ga
perlu ASI. kalo emang ASI ga keluar kan bisa kasih sufor" eh setelah Nara lahir langsung beranggapan "Ngapain ngasih sufor? Udah dapet
yang gratis dari Allah dan yang pasti sehat jadi harus banget
nyusuin Nara sampai umur dua tahun".
Emang ga MUDAH..
Dua tahun menyusui yang penuh perjuangan.
Perjuangan untuk bisa ngasih Nara ASI, perjuangan bikin ASI banyak, perjuangan menahan rasa sakit
di payudara karena bengkak dan digigit, dan perjuangan untuk
bisa menyusui sampai dua tahun. Tapi hal yang paling diinget saat nyusuin Nara tuh ada tiga, yang
pertama saat lagi nangis minta nenen, kadang suka dilama-lamain kasih nenennya yang akhirnya jadi nangis hihihi. Yang
kedua senyum bahagianya saat liat nenen dan dikasih nenen. Yang ketiga saat Nara bilang "Enaaaak.. enis", enak dan manis
nenenya. Aaah saya bakal merindukan hal itu..
Dan dengan demikian kamu mendapat Sertifikat ASI S3+ dari AIMI Nak, yeayyyy…
Sekarang kamu lebih terlihat santai dan mandiri.
Saat kamu bilang “Mbu, mau susu..”
Saya menjawab dengan “mau minum susu Ambu aja gak?” sambil melirik mu penuh goda…
Ternyata dengan tegas kamu bilang “gak ah.. buat dede..”
wuihhhh… kerennnn… jadi makin “kagum” sama anak sendiri hahaha, *two tumbs*
Maka dengan ini, breastfeeding path mu akan berakhir disini.. tok..tok..tok.. *ketok palu* hehehe..
Terakhir ini tips untuk yang mau berkomitmen seperti saya hehe
Positive Thinking itu aja..
ASI adalah positive thinking,
makan bergizi, dan istirahat cukup! Inilah pesan favorit saya. Banyak ibu
yang gagal ASIX (ASI eksklusif) karena udah ragu-ragu dan negative thinking kalo
ASInya ga akan cukup buat baby ato ASInya sedikit. Kalo kita yakin ASI
cukup, maka pabrik ASI akan meningkatkan produksinya sesuai kebutuhan
bayi.
Semoga membantu ya moms^^



