Rabu, 24 September 2014

Review Book "AYAH EDY PARENTING"

Saatnya mereview!

Kali ini saya akan mereview buku berkenaan dengan parenting. Bagi wanita yang mulai beranjak dewasa, buku parenting memang sangat dibutuhkan. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, pemenuhan gharizah nau pada dasarnya adalah pemenuhan demi lestarinya keturunan. Dan mendidik serta membesarkan anak bukanlah perkara main-main layaknya yang sering anak perempuan mainkan saat kecil. Main ibu-ibuan, main masak-masakan, atau main keluarga-keluargaan. Ha. Das ist zu komplieziert.

Nah sayangnya, banyak orang tua yang menyepelekan bahkan menyatakan rasa pesimis terhadap program parenting. Bahwa menjadi orang tua adalah naluriah yang akan timbul saat masanya. Hal ini dibuktikan dengan orang tua-orang tua sebelumnya yang tidak pernah belajar parenting, namun mampu mendidik dan membesarkan anak hingga menjadi “orang”. Memang benar, tapi tidak sepenuhnya benar.



Pada saat saya lahir pada tahun 1989, dimana pada masa itu, zaman tidak sepenuhnya menggila layaknya hari ini, dimana interval pergeseran budaya sudah semakin tinggi. Saya ingat, di zaman saya lahir dan menjadi anak-anak, siaran televisi masih dipenuhi dengan program-program mendidik dan tontonan anak-anak. Saat itu saya benar-benar menonton tontonan khusus anak. Begitupun dengan permainan yang saya mainkan masih kental dengan tradisi.



Sedangkan kita tahu bahwa lingkungan memiliki pengaruh terbesar ketiga setelah orang tua dan guru dalam membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu, dapat dipastikan orang tua dan calon orang tua kekinian memiliki tantangan yang ekstra besar dalam mendidik anak. Maka dari itu, belajar parenting sangat dibutuhkan agar kita mampu mendidik anak sesuai zamannya namun tidak terlepas dari aturan-aturan yang Allah bawa. Tidak ada salahnya dong belajar demi anak yang lebih baik :)



Seperti yang Ayah Edy tuliskan dalam bukunya, “Kita hidup pada zaman kita dan anak hidup pada zamannya maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya.”



Setau saya Ayah Edy telah memproduksi enam buku hingga kini, buku tersebut adalah Jadi Ayah Baru ternyata Asyik Juga Ya!, Ayah Edy Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?, Ayah Edy Menjawab, Ayah Edy Punya Cerita, Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!, dan Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak.


Sayangnya saya baru mempunyai dua buku Ayah Edy sebagai buku parenting perdana yang saya punya. Harganya pun terjangkau, saya membeli seharga IDR 60K untuk dua buku sudah termasuk diskon. Tapi di luar harganya, InsyaAllah informasi parenting yang akan kita dapat berbanding sangat positif bahkan lebih buanyak manfaat yang kita terima.
Ayah Edy Punya Cerita, begitulah judulnya. Namun cerita yang terkandung dalam buku ini bukan cerita biasa. Ada inspirasi disetiap nafas tulisannya demi menjadi orang tua yang baik.


Pertanyaan siap dan tidak atau belum siap memang tergantung setiap individu walaupun sistem dan lingkungan juga sangat berpengaruh penting. Mari kita tengok ke belakang, di masa-masa dimana dua orang dengan karakter yang berbeda, mempunyai niatan baik untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Pada saat itu, apakah terbertik obrolan-obrolan untuk menjadi orang tua yang baik? Atau hanya sibuk memikirkan pemenuhan gharizah nau? Padahal, gharizah nau sejatinya berkaitan dengan naluri melestarikan keturunan yang distandartkan pada aturan Allah. Pada mabda Islam. Bukan semata cinta atau kasih sayang antara laki-laki dan perempuan.



Saya pernah berdiskusi terkait masalah pernikahan, dimana ada sebuah kata-kata yang sampai sekarang saya hapal di luar kepala. Beliau berkata, “pernikahan bukan hanya sebatas kita menerima luar-dalam pasangan kita. Bukan pula semata sebatas kita mampu hidup berkeluarga dari titik nol.“ Tapi di atas itu, sangat perlu untuk memikirkan kesiapan diri menjadi pendidik pertama generasi pembela Islam. Generasi yang akan membangun secara kokoh pondasi syariah dan khilafah. Generasi pembebas layaknya Muhammad Al-Fatih.



Terlebih, zaman kita semakin menggila akibat bercokolnya virus-virus kapitalisme dan hedonisme dalam setiap lini-lini kehidupan. Tak mudah mendidik anak di zaman ini, dimana anak merupakan sebuah kamera polaroid dan orang tua berperan sebanyak 70% dalam proses membidik hingga membentuk bagus tidaknya hasil cetak foto. Artinya, orang tua berperan penting dalam proses membentuk pola perilaku anak. Jika tidak, maka lingkunganlah yang akan menyerobot peran 70% tadi.



Maka mulai kini, detik ini, pikirkanlah pertanyaan ini matang-matang sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Saat diri ini siap untuk pemenuhan gharizah nau. Apakah kita siap menjadi orang tua? Resapi pertanyaan ini masak-masak hingga lisan dan hati kita siap mengamalkan melalui perbuatan. Jika masih terbertik keraguan dalam kesiapan untuk menjadi orang tua, maka tentu kita harus mempersiapkan secara benar. Secara sempurna. Karena anak merupakan makhluk paling canggih yang pernah Allah ciptakan di muka bumi ini.



Dan jangan lupa baca buku parentingnya. Recommended pisan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar