Kali ini saya akan mereview buku berkenaan dengan parenting. Bagi wanita yang mulai beranjak dewasa, buku parenting memang sangat dibutuhkan. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, pemenuhan gharizah nau pada dasarnya adalah pemenuhan demi lestarinya keturunan. Dan mendidik serta membesarkan anak bukanlah perkara main-main layaknya yang sering anak perempuan mainkan saat kecil. Main ibu-ibuan, main masak-masakan, atau main keluarga-keluargaan. Ha. Das ist zu komplieziert.
Nah sayangnya, banyak orang tua
yang menyepelekan bahkan menyatakan rasa pesimis terhadap program parenting. Bahwa menjadi orang tua
adalah naluriah yang akan timbul saat masanya. Hal ini dibuktikan dengan orang
tua-orang tua sebelumnya yang tidak pernah belajar parenting, namun mampu
mendidik dan membesarkan anak hingga menjadi “orang”. Memang benar, tapi tidak
sepenuhnya benar.
Pada saat saya lahir pada tahun
1989, dimana pada masa itu, zaman tidak sepenuhnya menggila layaknya hari ini,
dimana interval pergeseran budaya sudah semakin tinggi. Saya ingat, di zaman
saya lahir dan menjadi anak-anak, siaran televisi masih dipenuhi dengan
program-program mendidik dan tontonan anak-anak. Saat itu saya benar-benar
menonton tontonan khusus anak. Begitupun dengan permainan yang saya mainkan
masih kental dengan tradisi.
Sedangkan kita tahu bahwa
lingkungan memiliki pengaruh terbesar ketiga setelah orang tua dan guru dalam
membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu, dapat dipastikan orang tua dan
calon orang tua kekinian memiliki tantangan yang ekstra besar dalam mendidik
anak. Maka dari itu, belajar parenting
sangat dibutuhkan agar kita mampu mendidik anak sesuai zamannya namun tidak
terlepas dari aturan-aturan yang Allah bawa. Tidak ada salahnya dong belajar
demi anak yang lebih baik :)
Seperti yang Ayah Edy tuliskan
dalam bukunya, “Kita hidup pada zaman kita dan anak hidup pada zamannya maka didiklah
anak-anak kita sesuai zamannya.”
Setau saya Ayah Edy telah
memproduksi enam buku hingga kini, buku tersebut adalah Jadi Ayah Baru ternyata
Asyik Juga Ya!, Ayah Edy Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?, Ayah
Edy Menjawab, Ayah Edy Punya Cerita, Membangun Indonesia yang Kuat dari
Keluarga!, dan Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak.
Ayah Edy Punya Cerita, begitulah judulnya. Namun cerita yang terkandung
dalam buku ini bukan cerita biasa. Ada inspirasi disetiap nafas tulisannya demi
menjadi orang tua yang baik.
Pertanyaan siap dan tidak atau belum siap memang tergantung setiap
individu walaupun sistem dan lingkungan juga sangat berpengaruh penting. Mari
kita tengok ke belakang, di masa-masa dimana dua orang dengan karakter yang
berbeda, mempunyai niatan baik untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Pada saat
itu, apakah terbertik obrolan-obrolan untuk menjadi orang tua yang baik? Atau hanya sibuk memikirkan pemenuhan gharizah nau? Padahal, gharizah nau sejatinya berkaitan dengan
naluri melestarikan keturunan yang distandartkan
pada aturan Allah. Pada mabda Islam. Bukan semata cinta atau kasih sayang antara laki-laki
dan perempuan.
Saya pernah berdiskusi terkait masalah pernikahan, dimana ada sebuah
kata-kata yang sampai sekarang saya hapal di luar kepala. Beliau berkata, “pernikahan bukan hanya sebatas kita menerima
luar-dalam pasangan kita. Bukan pula semata sebatas kita mampu hidup
berkeluarga dari titik nol.“ Tapi di atas itu, sangat perlu untuk
memikirkan kesiapan diri menjadi pendidik pertama generasi pembela Islam. Generasi
yang akan membangun secara kokoh pondasi syariah dan khilafah. Generasi pembebas
layaknya Muhammad Al-Fatih.
Terlebih,
zaman kita semakin menggila akibat bercokolnya virus-virus kapitalisme dan
hedonisme dalam setiap lini-lini kehidupan. Tak mudah mendidik anak di zaman
ini, dimana anak merupakan sebuah kamera polaroid dan orang tua berperan
sebanyak 70% dalam proses membidik hingga membentuk bagus tidaknya hasil cetak foto. Artinya, orang tua berperan penting dalam proses
membentuk pola perilaku anak. Jika tidak, maka lingkunganlah yang akan
menyerobot peran 70% tadi.
Maka mulai kini, detik ini, pikirkanlah pertanyaan ini matang-matang
sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Saat diri ini siap untuk pemenuhan gharizah nau. Apakah kita siap menjadi
orang tua? Resapi pertanyaan ini masak-masak
hingga lisan dan hati kita siap mengamalkan melalui perbuatan. Jika masih
terbertik keraguan dalam kesiapan untuk menjadi orang tua, maka tentu kita
harus mempersiapkan secara benar. Secara
sempurna. Karena anak merupakan makhluk paling canggih yang pernah Allah
ciptakan di muka bumi ini.
Dan jangan lupa baca buku parentingnya.
Recommended pisan!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar